kali ini postingan berisi puisi-puisi dari Sapardi Djoko Damono yang menurutku romantisss.. abbisss daahh,,
kapan seseorang bisa membuat puisi kayak gini --> terus dibacain di depan.ku --> membacanya dengan penuh c.i.n.t.a.. uhhmmm..
kayaknya dia gak bakal bisaa.. haha.. :)
Let's cekidot..
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
waahhh,, so sweet banget ini puisi,, dari sekian juta puisi,, puisi inilah yang paling kereennn,, cocok banget buat yang sedang jatuh cinta.. haha..
masih dari puisinya Om Sapardi.. ckckckck..
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikuti di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang ke depan
Aku dan Matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
lanjut
PADA SUATU HARI NANTI
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap ku siasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya ku cari
ok, selanjutnya
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
MencintaiMu harus menjadi aku
dan yang terakhir
DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya
Dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya
Dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya
terimakasihh untuk para pembaca.. :),,,
Read More......
I'm a girl, a daughter, a sister, and muslim forever, just ordinary blog, and this is me.. ^_^
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Desember 2011
Senin, 19 Desember 2011
Profesi Guru Diminati karena Tunjangan Sertifikasi?
tak postingin hasil.ku menulis artikel mata kuliah pengantar pendidikan,, kalo nggak di suruh dosenn juga nggak bakal nulis kayak gini.. wakak..
sekedar ngasih tau aja, kalo 85 persen artikel ini murni ide.ku sendiri, 10 persen... copas..copas.. gitu.. dan yang lima persen pake ilmu KIROLOGI alias kiro-kiro.. haha.. :D
selamat membaca
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Salah satu komponen pendidikan yang terpenting adalah guru. Karena keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak hadirnya sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas, hampir semua bangsa di dunia ini selalu mengembangkan kebijakan yang mendorong keberadaan guru yang berkualitas. Salah satu kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah di banyak negara adalah kebijakan intervensi langsung menuju peningkatan mutu dan memberikan jaminan dan kesejahteraan hidup guru yang memadai.
Guru merupakan salah satu ujung tombak perkembangan pendidikan di Indonesia. Berhasil atau tidaknya program-program pendidikan yang ditetapkan pemerintah bergantung pada kesiapan para pendidik untuk menjalankannya. Guru disebut sebagai sebuah profesi karena adanya kode etik yang mengaturnya dan adanya latar belakang pendidikan yang sesuai dan mendukung profesinya tersebut. Masih ingatkah dengan cerita Umar Bakri yang digambarkan sebagai seorang guru yang harus pergi pagi, pulang petang, mengayuh sepeda ke sekolah, dan dengan gaji yang sangat minim harus mendidik siswa-siswanya? Sepertinya cerita tersebut telah menguap tanpa meninggalkan jejak. Kini guru tidak lagi seperti itu. Bahkan materi yang dimiliki oleh seorang guru bisa melebihi materi yang dimiliki oleh seorang dokter. Ada apa gerangan? Mengapa profesi guru sekarang banyak diminati generasi muda?
Beberapa tahun belakangan ini, pendidikan guru di perguruan-perguruan tinggi mengalami kenaikan peminat. Anak-anak muda lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak ragu-ragu lagi untuk memilih jurusan kependidikan karena sebagian besar dari mereka ingin menjadi guru. Seperti yang telah diketahui saat ini, profesi guru merupakan salah satu profesi yang menjanjikan diantara profesi-profesi yang lain. Pemerintah menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20% lebih dari total APBN atau 240 triliun lebih salah satunya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Adanya kecenderungan kenaikan tunjangan-tunjangan guru merupakan salah satu faktor mengapa para generasi muda ingin menjadi guru.
Adanya profesionalitas akan menjamin mutu pekerjaan suatu profesi. Oleh karena itu, pemerintah melalui instrumen Peraturan menteri No. 18 Tahun 2007 menetapkan program sertifikasi guru dalam jabatan. Adanya kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru tampaknya yang mengundang banyak lulusan-lulusan SMA mengambil jurusan kependidikan sebagai pendidikan lanjutan yang akan mereka tempuh. Sertifikasi guru merupakan salah satu program pemerintah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan. Dengan adanya program sertifikasi, diharapkan para guru mampu bekerja sebagai profesional sesuai dengan bidang yang mereka tekuni.
Wujud nyata dari pelaksanaan sertifikasi guru adalah pemeberian sertifikat kepada para guru yang telah memenuhi persyaratan. Tentu ada proses yang harus dilewati oleh pendidik untuk memperoleh sertifikat tersebut seperti portofolio sampai dengan mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi guru). Jika awal-awal diadakannya program sertifikasi ini guru masih dituntut untuk membuat portofolio, RPP, dan lain-lain, tapi seiring berjalannya waktu mereka cenderung untuk memilih mengikuti diklat. Dengan mereka mengikuti diklat, otomatis mereka tidak harus mengumpulkan portofolio, RPP, PTK dan lain-lain. Mereka cukup duduk dan mendengarkan saja. Begitu mudah bukan?
Memang tidak semua pendidik diberi kesempatan untuk mengikuti sertifikasi. Para pendidik yang diberi kesempatan mengikuti sertifikasi salah satunya adalah pendidik yang memasuki masa kerja minimal lima tahun sebagai guru dan memiliki jam mengajar yang memenuhi syarat yakni 24 jam per minggu. seseungguhnya adakah jaminan bahwa sertifikasi akan meningkatkan kualitas kompetensi guru? Ada beberapa hal yang perlu untuk dikaji secara mendalam untuk memberikan jaminan bahwa sertifikasi akan meningkatkan kualitas kompetensi guru. Sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk mencapai suatu tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Perlu ada kesadaran dan pemahaman dari semua pihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Kesadaran dan pemahaman ini akan melahirkan aktivitas yang benar.
Demikian pula kalau guru mengikuti uji sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standar kemampuan guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan lain guna memperoleh sertifikat profesi kecuali mempersiapkan diri dengan belajar yang benar untuk menghadapi uji sertifikasi.
Jika memang tujuan dari sertifikasi adalah meningkatkan mutu pendidikan dengan mengoptimalkan profesi guru, maka memang sudah sewajarnya jika pemerintah mengucurkan dana sekian ratus triliyun untuk mutu pendidikan Indonesia. Sudah tidak mengherankan lagi jika tujuan utama dari para pendidik mengikuti sertifikasi adalah karena tunjangannya yang menggiurkan. Tunjangan yang diberikan memang seharusnya sesuai dengan apa yang telah para pendidik berikan untuk kemajuan mutu pendidikan di Indonesia. Bagaimana dengan para pendidik yang akan memasuki usia pensiun. Masih layakkah mereka mengikuti sertifikasi?
Banyak sekali cerita tenang faktor kesehatan yang berpengaruh ketika ujian sertifikasi atau PPG dijalani oleh mereka yang berusia rawan dengan kesehatannya. Lalu tujuan mereka ikut sertifikasi apa? Menambah tunjangan bukan? Bagaimana bisa mereka menerapkan hal-hal yang mereka peroleh saat diklat atau seminar kepada siswa-siswa mereka disaat kondisi mereka yang tidak memungkinkan? Pemerintah harus benar-benar mengawasi program sertifikasi ini. Jangan sampai program yang tujuannya membuat mutu pendidikan semakin bagus justru membuat mutu pendidikan terpuruk dengan kasus-kasus yang mewarnai jalannya program sertifikasi.
Disadari atau tidak, yang jelas kebijakan yang dikeluarkan pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan tentang sertifikasi telah membangkitkan semangat dan motivasi guru untuk aktif mengikuti seminar, workshop, dan sebagainya. Namun, apakah dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, para guru bisa mengaplikasikannya dalam proses belajar-mengajar? Pertanyaan yang masih tersimpan dengan rapi jawabannya. Lalu bagaimana dengan minat anak-anak muda sekarang untuk menjadi seorang pendidik yang meningkat tajam? Akankah mereka masih berminat menjadi seorang pendidik jika kelak sertifikasi di hapuskan dan nasib guru kembali seperti cerita Umar Bakrie?
bagemana artikel.ku sangat buruk, buruk, atau biasa saja..??
tolong supportnya ya,, biar bisa bikin artikel yg lebih bagus..
Read More......
Sabtu, 17 Desember 2011
apa yang sudah aku ambil?? :)
gak kerasa aku udah semester 3,, cepet juga..
perasaan baru kemarin jadi mahasiswa baru,, ehh,, udah setahun berlalu..
kali ini postingan.ku berisi beberapa mata kuliah yang udah aku ambil selama tiga semester ini,,
semoga saja dari para pembaca ada yang sejurusan sama aku. meski di kampus yang berbeda,, tapi setidaknya mari saling bertukar informasi lewat sharing beberapa mata kuliah..
semester 1
mata kuliah yang aku ambil antara lain --> sejarah sastra, dasar-dasar menulis, membaca intensif, filsafat ilmu, linguistik umum, teori sastra, bahasa inggris profesi, menyimak, dan berbicara monologis --> total ada 9 mata kuliah dengan sks keseluruhan 21 sks
semester 2
mata kuliah yang aku ambil antara lain --> fonologi bahasa indonesia, morfologi bahasa indonesia, kritik sastra, membaca ekstensif, membaca sastra, berbicara dialogis, bahasa arab, pendidikan agama islam, dan pendidikan pancasila --> total ada 9 mata kuliah dengan sks keseluruhan 23 sks
semester 3
mata kuliah yang aku ambil antara lain --> perkembangan peserta didik, pendidikan kewarganegaraan, apresiasi puisi, apresiasi prosa fiksi, telaah kurikulum dan pengembangan bahan ajar BSI, sintaksis bahasa indonesia, semantik bahasa indonesia, dan pengantar pendidikan --> total ada 8 mata kuliah dengan jumlah sks keseluruhan 23 sks
untuk semester-semester selanjutnya postingannya menyusul eea..
semoga bisa lulus kuliah tepat waktu dan bisa mengaplikasikan apa yang aku terima dari dosen-dosen.ku tercinta.. haha..sok sweet :S
Read More......
perasaan baru kemarin jadi mahasiswa baru,, ehh,, udah setahun berlalu..
kali ini postingan.ku berisi beberapa mata kuliah yang udah aku ambil selama tiga semester ini,,
semoga saja dari para pembaca ada yang sejurusan sama aku. meski di kampus yang berbeda,, tapi setidaknya mari saling bertukar informasi lewat sharing beberapa mata kuliah..
semester 1
mata kuliah yang aku ambil antara lain --> sejarah sastra, dasar-dasar menulis, membaca intensif, filsafat ilmu, linguistik umum, teori sastra, bahasa inggris profesi, menyimak, dan berbicara monologis --> total ada 9 mata kuliah dengan sks keseluruhan 21 sks
semester 2
mata kuliah yang aku ambil antara lain --> fonologi bahasa indonesia, morfologi bahasa indonesia, kritik sastra, membaca ekstensif, membaca sastra, berbicara dialogis, bahasa arab, pendidikan agama islam, dan pendidikan pancasila --> total ada 9 mata kuliah dengan sks keseluruhan 23 sks
semester 3
mata kuliah yang aku ambil antara lain --> perkembangan peserta didik, pendidikan kewarganegaraan, apresiasi puisi, apresiasi prosa fiksi, telaah kurikulum dan pengembangan bahan ajar BSI, sintaksis bahasa indonesia, semantik bahasa indonesia, dan pengantar pendidikan --> total ada 8 mata kuliah dengan jumlah sks keseluruhan 23 sks
untuk semester-semester selanjutnya postingannya menyusul eea..
semoga bisa lulus kuliah tepat waktu dan bisa mengaplikasikan apa yang aku terima dari dosen-dosen.ku tercinta.. haha..
pendekatan makna
biar blog ini lebih bermanfaat,, tak postingin sebagian hasil kerja kelompok.ku dalam mata kuliah SEMANTIK.. mata kuliah yang amat membingungkan,,
sebenernya simpel sih, tapi dibuat ribet sama buku dan dosennya..
Pengertian makna
dalam pemakaian sehari-hari
Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna
digunakan dalam berbagai bidang maupun konteks pemakaian. Pengertian makna
cenderung lebih dekat dengan pengertian arti, namun bukan berarti keduanya
sinonim mutlak. Disebut demikian karena arti adalah kata yang telah mencakup
makna dan pengertian (Kridalaksana, 1982:15).
Pengertian makna
sebagai istilah
Kata makna sebagai istilah mengacu pada
pengertian yang sangat luas. Makna ialah hubungan antara bahasa dengan dunia
luar yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat
saling dimengerti (Grice, 1957; Bolinger, 1981:108). Dari batasan pengertian
itu, dapat diketahui adanya tiga unsur pokok yang tercakup di dalamnya, yakni
(1) makna
adalah hasil hubungan antara bahasa dengan dunia luar
(2) penentuan
hubungan terjadi karena kesepakatan para pemakai, serta
(3) perwujudan
makna itu dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga dapat saling
dimengerti.
Yang
dimaksud hubungan antara bahasa dengan dunia luar, dalam hal ini terdapat tiga
pandangan filosofis yang berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Ketiga
pandangan yang dimaksud adalah (1) realisme,
(2) nominalisme, dan (3) konseptualisme.
(1) Realisme
beranggapan bahwa terhadap wujud dunia luar, manusia selalu memiliki jalan
pikiran tertentu. Pandangan bahwa antara “makna kata” dengan wujud yang
dimaknai” memiliki hubungan yang hakiki, akhirnya menimbulkan klasifikasi makna
kata yang dibedakan antara yang kongkret, abstrak, tunggal, jamak, khusus,
maupun universal ternyata tidak selamanya mudah. Batas antara benda konkret dan
abstrak, khusus atau universal, seringkali sulit ditentukan. Kata “mendung”
misalnya, selain dapat diacukan sebagai benda, dapat pula diacukan sebagai
“suasana sedih”.
(2) Dalam
nominalisme, hubungan antara makna
kata dengan dunia luar semata-mata bersifat arbitrer meskipun sewenang-wenang
penentuan hubungannya oleh para pemakai dilatari oleh adanya konvensi. Sebab
itulah, penunjukkan makna kata bukan bersifat perseorangan, melainkan memiliki
kebersamaan.
(3) Bagi
konseptualisme, pemaknaan sepenuhnya ditentukan oleh adanya asosiasi dan
konseptualisasi pemakai bahasa, lepas dari dunia luar yang diacunya.
Pengertian
makna dan pendekatan referensial
Dalam
pendekatan referensial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam
kesadaran manusia untuk menunjuk dunia luar. Sebagai label atau julukan, makna
itu hadir karena adanya kesadaran pengamatan terhadap fakta dan penarikan
kesimpulan yang keseluruhannya berlangsung secara subjektif. Kesadaran
pengamatan dan penarikan kesimpulan dalam pemberian julukan, dan pemaknaan
tersebut, berlangsung melalui bahasa. Akan tetapi, berbeda dengan bahasa
keseharian, bahasa yang digunakan di situ adalah bahasa perseorangan atau
private language. Terdapatnya bahasa perseorangan yang mempribadi tersebut
lebih lanjut menyebabkan keberadaan mmakna sangat ditentukan oleh adanya nilai,
motivasi, sikap, pandangan, maupun minat secara individual. Dagai makna yang
beragam.alam puisi, misalnya, pemberian julukan yang bersifat individual itu
mengakibatkan kata-kata yang digunakan menuansakan berbagai makna yang beragam.
Pengertian makna
dalam pendekatan ideasional
Dalam pendekatan ideasional, makna
adalah gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat
sewenang-wenangnya, tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti.
Gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat sewenang-wenang,
tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti. Gambaran kesatuan
hubungan antara makna dengan bentuk kebahasaan itu secara jelas dapat dikaji
dalam perumusan Grice.
Meletakkan komponen semantik pada
adanya suatu gagasan, bukan berarti pendekatan ideasional mengabaikan makna
pada aspek bunyi, kata dan frase. Jerrold J. Katz mengungkapkan bahwa penanda
semantis dari bunyi, kata dan frase sebagai unsur-unsur pembangun kalimat,
dapat langsung diidentifikasi lewat kalimat. Dengan mengidentifikasi
unsur-unsur kalimat itu sebagai satuan gagasan, diharapkan pemaknaan tidak
berlangsung secara lepas-lepas, tetapi mengacu pada sauan makna yang dapat
digunakan dalam komunikasi (Katz, dalam Steinberg & Jakobovits, 1978 :
297).
Pendekatan ideasional dilatari
gagasan dari John Locke, yakni “. . . bahasa adalah pengemban makna untuk
mengomukasikan gagasan”. (Alston, 1964: 22). Dalam pedekatan Ideasional, makna
dianggap sebagai pemerkah ide yang memperoleh bentuk lewat bahasa dan terwujud
dalam kode. Dari adanya kegiatan “pembahasan pesan” dan “pengolahan kode”, maka
dalam pendekatan ideasional, penguasaan aspek kognitif dan rekognisi dari
pemeran dalam kegiatan komunikasi, sangat penting. Aspek kognisi dan rekognisi
memiliki sasaran, baik pada aspek gramatik, hubungan antara aspek gramatik
dengan unsur semantis, maupun hubungan antara bahasa dengan dunia luar.
Dari uraian di atas dapat diketahui
bahwa bahasa memiliki kedudukan sentral. Dengan demikian, kesalahan penggunaan
bahasa dalam proses berpikir menyebabkan pesan yang disampaikan tidak tepat.
Sebaliknya, seandainya penggunaan bahasa dalam proses berpikir sudah benar, tetapi
kode yang diwujudkan mengandung kesalahan, informasi yang diterima pun dapat
menyimpang. Pada sisi lain, meskipun pembahasan pesan dan kode sudah benar,
bila terjadi gangguan penerimaan, besar kemungkinan informasi yang diterima
tidak sesuai dengan pesan yang disampaikan. Pandangan bahwa bahasa adalah
ekspresi bebas dari gagasan lebih lanjut, juga diungkapkan Chomsky. Pelopor
dalam menghadirkan teori generatif Transformasi.
Betapa pun bagusnya pandangan dalam
pendekatan ideasional, kritik masih juga berdatangan. Selain itu, meletakkan
bahasa sebagai wujud gagasan; sebagai perilaku eksternal dari yang internal,
tidak dapat berlaku umum.
Kritikan lain, mengharapan
kesejajaran asosiasi fakta dari makna kata antara penutur dengan pendengar
tidak selamanya terlaksana. Kata anjing,
misalnya, bagi penutur mungkin menunjuk ke asosiasi fakta “binatang
kesayangan”, Bagi pendengar mungkin justru berkebalikan.
Pengertian
makna dalam pendekatan behavioral
Sebelumnya
telah dijelaskan pendekatan referansial dan pendekatan ideasional. Keberadaan
dari pendekatan behavioral terhadap kedua pendekatan tersebut, salah satunya
adalah, kedua pendekatan itu telah mengabaikan konteks sosial dan situsional
yang oleh kaum behavioral dianggap berperanan penting dalam menentukan makna.
Kritik lain terhadap kedua pendekatan di atas adalah pada objek utama kajian
yang justru tidak pernah dapat diobservasi secara langsung. Pernyataan dalam
kajian ideasional yang berkaitan dengan keselarasan pemahaman antara penutur
dengan pendengar dalam memaknai kode. Misalnya dalam pendekatan behavioral
dianggap kajian spektakulatif karena pengkaji tidak pernah mampu meneliti
karakteristik idea atau penuturan-pendengar, sejalan dengan aktivitas
pengelolahan pesan dan pemahamannya. Sebab tuturan atau unit terkecil yang
mengandung makna penuh dari keseluruhan speech event yang berlangsung speech
situation disebut speech act (Hymes, 1972:56).
Penentuan
makna dalam speech act menurut Searle harus bertolak dari berbagai kondisi dan
situasi yang melatari pemunculannya (Searle, 1969). Makna keseluruhan unit
ujaran dengan demikian harus disesuaikan dengan latar situasi dan bentuk
interaksi sosial yang mengondisikannya. Hal itu sejalan dengan rumusan
pengertian Austin.
Konsep
yang antara lain dikembangkan oleh Austin, Hare, Searle, Alston, dll, akhirnya
juga tidak lepas dari kritik. Kritik utama, yang akan datang dari Chomsky,
menganggap bahwa meletakkan unsur luar bahasa sejajar dengan bahasa dalam
rangka menghadirkan makna, berarti menghilangkan aspek kreatif bahasa itu
sendiri yang dapat digunakan untuk mengekspresikan gagasan secara bebas.
Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)